MAKNA PEMUDA DALAM ISLAM

Oleh : Nur Yakin

Masa muda selalu dianggap sebagai masa ke-emasan dalam sebuah proses kehidupan karena pada masa muda ini sering kali dianggap sebagai penentu untuk masa tua dan bahkan masa pasca kehupan di dunia sehingga sebutan pemuda seakan menjadi harapan besar bagi kemajuan negara dan agama .

Menurut Dr Yusuf Qardhawi, jika diibaratkan matahari maka usia muda sama halnya dengan pukul 12.00 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas.

Karena pemuda mempunyai kekuatan yang lebih banyak baik secara fisik ataupun semangat jika dibandingkan dengan anak kecil atau orang jompo.

Jika dilihat dari sejarah Islam, banyak pemuda yang mendampingi Rasulullah SAW berjuang menegakkan kalimat Allah, Misalnya adalah Mush`ab bin `Umair, Harist bin haristah, Ali bin Abu Thalib, `Aisyah dll.

Mereka juga memiliki catatan sejarah yang luar biasa dalam memperjuangkan agama Allah SWT semasa kenabian, masa Kholifah Ar Rosyidin dan masa-masa seterusnya.

Hal ini berkaitan dengan hadis yang menjelaskan tentang pentingnya waktu yang diungkapkan Rasulullah SAW sebagaimana berikut;

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggung jawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi)

Dari hadist di atas, bisa kita fahami tentang bagaimana manusia menjalani masa kehidupannya, sehingga pada masa muda tentu memiliki posisi yang sangat penting.

Para pemuda dituntut untuk mem­berikan gebrakan dalam membangun kemajuan bangsa dan agama, tapi bersamaan dengan itu, masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu.

Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwa, yang kemudian menyebabkan hidupnya terguncang .

Dalam kondisi seperti itu, peluang terjerumus kedalam kemungkaran dan kesesatan yang dibisikkan setan sangatlah besar. Apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah SWT bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan menempuh segala cara,

قَالَ فَبِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ لَاَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَاطَكَ الۡمُسۡتَقِيۡمَۙ‏
ثُمَّ لَاَتِيَنَّهُمۡ مِّنۡۢ بَيۡنِ اَيۡدِيۡهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ اَيۡمَانِهِمۡ وَعَنۡ شَمَآٮِٕلِهِمۡ‌ؕ وَلَا تَجِدُ اَكۡثَرَهُمۡ شٰكِرِيۡنَ‏

(Iblis) menjawab, "Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. "

Di sinilah bagaimana kemudian peran besar agama Islam sebagai petunjuk. Allah menurunkan Islam untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. 

Agama Islam memberi perhatian sangat besar terhadap upaya perbaikan mental para pemuda, karena generasi muda hari ini adalah pemeran utama di masa yang akan datang. Merekalah fondasi yang menopang masa depan bangsa dan agama ini.

Karenanya, banyak sekali istilah dalam islam yang mendorong kita agar membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan, karena jika mereka baik maka bangsa ini akan memiliki masa depan yang cerah.

Generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh dan memiliki nilai juang untuk kemaslahatan umat.

Dalam hal ini peranan pemuda sangatlah diharapkan untuk menjadi motor penggerak dalam membangun mentalitas peribadatan umat, sehingga adanya jaminan naungan Allah kelak untuk para pemuda yang tekun dalam menjalan syari'at islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ‏”‏‏ متفق عليه.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
Imam (pemimpin) yang adil, Pemudah yang tunduk beribadah kepada Allah, Seorang laki-laki yang hatinya terpaut di masjid, Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah, seorang lelaki yang takut akan melanggar perintah Allah saat di goda oleh perempuan, Orang yang merahasikab sedekahnya, Seseorang yang saat mengingat Allah takut akan siksaan api neraka."

Hadist di atas menjelaskan betapa pentingnya peranan pemuda dalam membangun keperibadiannya dan kehidupan manusia sebagai makhluk yang harus senantiasa istiqomah meningkatkan peribadatannya kepada sang pencipta yaitu Allah tuhan semesta alam, kulalitas peribdatan terhadap Allah perlu di topang dengan pengetahuan (ilmu agama) yang luas, karena pemuda merupakan generasi dan harapan untuk masa tua yang lebih baik