SANTRI DAN RESOLUSI JIHAD (BELA NEGARA)

SANTRI DAN RESOLUSI JIHAD (BELA NEGARA)
Oleh : Nur Yakin

Santri adalah seseorang yang menuntut ilmu agama di pondok pesantren yang dalam kesehariannya mengaji kitab-kitab salaf (ilmu agama).

Sedangkan Resolusi Jihad merupakan upaya bangsa indonesa dalam membela, menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Penjajahan bangsa asing.

Santri Dan Resolusi Jihad (Bela Negara) bukanlah hal yang tabu bagi bangsa Indonesia untuk dipahami, jika membaca sejarah masa-masa perjuangan para ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan dan kemudian mempertahankannya dari tangan penjajah.

  • Pra Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Sebelum berdirinya Bangsa Indonesia, kaum santri sudah turut andil dalam membangun peradaban dan pendidikan masyarakat di Indonesia, misalnya peran Walisongo dan santri-santrinya yang telah memberi angin segar bagi majunya peradaban, budaya dan pendidikan di masyarakat.

Walisongo dan santri-santrinya telah mengajarkan masyarakat Indonesia tentang kesamaan derajat dan arti pentingnya persatuan dan kesatuan dalam mewujudkan masyarakat yang kuat dan berdaulat.

Keruntuhan kerajaan-kerajaan besar dan perang saudara antar kerajaan kecil di Indonesia sampai dengan kedatangan kolonial Belanda untuk menjajah Indonesia, hal itu yang menyebabkan kemerdekaan dan kebebasan bangsa Indonesia telah direnggut.

Kaum santri hanya bisa bergerak dan berjuang di daerah yang didiaminya saja karena sulitnya komunikasi antar daerah akibat penjajahan Belanda.

Perjuangan kaum santri mulai tampak bersatu seiring berdirinya beberapa organisasi Islam di tanah air yang salah satunya yaitu barisan Hizbullah dan Sabilillah.

Dari wadah itu, kaum santri dan pemuda Islam berjuang dari satu daerah ke daerah yang lain untuk melumpuhkan kekuatan diplomasi dan milisi Belanda.

Dari medan perang, santri bergerak dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah, sedang di meja perundingan santri bergerak dalam organisasi perjuangan.

Namun, di saat melemahnya kekuatan Belanda di Indonesia, datanglah tentara Jepang yang mengaku sebagai pemimpin negara-negara Asia. Jepang berhasil mengusir Belanda di Indonesia dengan mempropagandakan bahwa Jepang adalah pelindung bangsa-bangsa Asia Timur Raya.

Setelah kurang lebih 3,5 tahun menjajah Indonesia, akhirnya Jepang menyerah juga di tangan pejuang dan kaum santri Indonesia seiring kekalahan mereka di pentas perang dunia dan dihancurkannya Nagasaki dan Hiroshima.

Kekalahan mereka di pentas perang dunia dan direbutnya kekuasaan mereka di Indonesia oleh pejuang dan kaum santri Indonesia membawa angin segar bagi kemerdekaan Indonesia.

Setelah ratusan tahun berjuang dan bergerak memperjuangkan bangsa Indonesia, akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia diakui oleh dunia sebagai bangsa yang merdeka.

  • Masa Mempertahankan Kemerdekaan
Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 meskipun Indonesia telah di akui oleh dunia namun tidak semerta-merta mampu berdiri sebagai Negara yang merdeka.

Semangat ulama dan santri mempertahankan kemerdekaan sangat jelas keberadaannya, dengan pemahaman dan penerapan terhadap kalimat (hubbul waton minal iman) “mencintai Negara adalah sebagian dari iman”.

Sehingga apapun akan mereka relakan demi membela atau mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.

Hingga PBNU mengeluarkan Fatwa tentang Resolusi Jihad (Bela Negara) yang kemudian menjadi titik tolak perjuangan para ulama beserta santri-santrinya Pada 21-22 Oktober. 

Dalam hal ini, NU mengumpulkan seluruh ulama dan berkonsulidasi se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan sekutu ke Indonesia.

Dari pertemuan tersebut, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.

Sontak saja, Resolusi Jihad ( Bela Negara) tersebut segera disambut angkat senjata oleh segenap kyai dan santri maupun simpatisannya, seperti di Banyuwangi yang menyambut seruan tersebut, para kyai kembali mengorganisir para laskar, baik yang tergabung dalam pasukan Hisbullah dan Sabilillah, maupun laskar-laskar lokal lainnya.

Para ulama seperti Kiai Saleh Lateng, Kiai Syamsuri Singonegaran dan Kiai Abdul Wahab Penataban yang terdengar nyaring dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Selain melakukan tirakat (riyadlah) demi mewujudkan kemerdekaan bangsa, ketiga kiai tersebut merupakan tempat jujukan para santri yang berjuang untuk meminta nasehat dan doa.

Dengan nasehat dan doa serta keterlibatan langsung para Kiai-kiai dan para santri yang berjuang di medan tempur seakan-akan memberikan keajiaban dan kesaktian luar biasa seperti bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur belanda namun tak satupun yang bisa meleda.

Mungkin hal yang demikian itu terdengar omong kosong atau mustahil, tapi hal ini betul-betul nyata seperti yang tercantum di surat kabar “kedaulatan rakkjat” tertanggal 26-November 1945.

Selain para kiai di atas masih banyak nama-nama kiai yang ikut serta dalam semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan, antara lain KHR. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Harun (PP Darunnajah), Kiai Subkhi (barokah bambu runcing), Kiai Abdullah Faqih dan putra-putranya yaitu Gus Sholeh dan Gus Idris, Kiai Dimyati Syafi’I, duet Kiai Askandar (Mambaul Ulum) dan Kiai Abdul Manan (Minhajut Thullab), Kiai Muhammad dan Kiai Musaddad yang memimpin Front Kayangan Alaspurwo dan Sukomade, Kiai Mukhtar Syafaat (PP. Darussalam, Blokagung), Kiai Junaidi Genteng. (PP. Bustanul Makmur), Kiai Abbas Hasan (PP. Al-Azhar), Kiai Abdul Latif Syuja, beserta para santri-santrinya dan juga para pejuang-pejuang nasionalis seperti Bung tomo dll.
  • Masa Orde Lama Sempai Sekarang
Perjuangan para kiai dan santri mengusir penjajah colonial Belanda dan tentara sekutu akhirnya menuai hasil manis dengan memenangkan pertempuran-pertempuran, meskipun harus diakui bahwa tidak dengan mudah untuk memukul mundur tentara belanda dan tentara sekutu.

Setelah peperangan melawan penjajah kolinial belanda dan tentara sekutu tidak semerta-merta membebaskan bangsa ini dari tantangan, yaitu munculnya organesasi-organesasi extrim yang mengancam keutuhan falsafah bangsa Indonesia ( Pancasila) semisal munculnya PKI (Partai Komonis Indonesia) pada era 1965an yang lagi-lagi memaksa para kiai dan santri untuk turun kembali kejalan untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul dari dalam negri tersebut.

Sampai dengan era reformasi ini masih selalu kita saksikan peran para kiai dan santri dalam upaya membangun dan menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) baik lewat lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga dakwah, organesasi-organisasi santri, maupun terlibat langsung pada kancah politik prakstis untuk mengawal dan ikut serta berperan mengawal cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.

Hal itu yang kemudian memacu KH. Toriq Bin Ziyad Darwis (PP. Babussalam) untuk menggagas Hari Santri Nasional dengan alasan mengenang jasa-jasa kiai dan santri yang telah berkontribusi banyak pada bangsa ini.

Dengan penuh totalitas patut kita tanamkan pada diri kita sebagai generasi penerus perjuangan kiai dan santri agar senantisa beresolusi jihad ( bela Negara), sehingga tren santri dalam bela Negara tidaklah hilang dari masa ke masa.

Pengakuan bahwa kita terlahir, hidup dengan nikmat iman dan islam di tanah Indonesia merupakan rahmat dan sebuah ketentuan sang maha kuasa, sehingga bela Negara merupakan fardu a’in seperti yang di fatwakan oleh Hadrotus Syeh Hasyim Asyari pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuah Republik Indonesia.

Dengan penuh keyakinan bahwa membela Negara merupakan Jihad Fi Sabilillah, karena pada dasarnya bela Negara setidaknya dikarenakan tiga alasan yaitu:
  1. Menjaga hak milik ( harta benda)
  2. Membela kehormatan diri sebagai bangsa
  3. Menajaga kemaslahatan bangsa indonesia.
sebagaiman sabda rasulullah bahwa:

 “orang yang tewas karena melindungi keselamatan hartanya mati syahid dan yang membela (kehormatan) keluarganya mati syahid dan membela dirinya (kehormatan dan jiwanya)juga mati syahid”. (HR. Ahmad ).

Hadist di atas telah cukup menjelaskan bahwa membela negara atas hak-haknya di dalam sangat dianjurkan, semoga kita generasi baru bisa melestarikab perjuangan para kaum santri dan ulama.