NGOPI ADALAH BUDAYA BAGI AKTIVIS MAHASISWA DAN PEMUDA.

Oleh : Nur Yakin

" Warung kopi adalah tempat paling demokratis, dimana setiap gagasan dan pemikiran tertuang dengan bebas. Begitupun dengan kualitas mahasiswa yang tergantung pada kualitas ngopinya"

Istilah "NGOPI" tidaklah sesempit semisal memesan kopi dan kemudian menkomsumsinya, lebih dari itu, ngopi memiliki makna yang sangat luas bagi aktivis mahasiswa dan pemuda.

Aktivis mahasiswa dan pemuda adalah sebutan bagi para mahasiswa dan pemuda yang aktif di dunia organesasi, yang memiliki ciri-ciri sebagai orang yang intlektual, kritis, peka terhadap kondisi sosial, dan mampu memberikan sumbangsih ide atau gagasan terhadap pemerintah demi kepentingan rakyat.

Kecenderungan aktivis mahasiswa dan pemuda melakukan kegiatan diskusi yang di dalamnya penuh dengan adu gagasan, adu argumentasi, atau persolan konsepsi oraganesasinya, menjadikan warung kopi "WarKop" sebagai tempat berkumpul.

Dari kebiasaan berdiskusi di WarKop itulah kemudian sering kali kegiatan-kegitannya disebut dengan istilah ngopi padahal di dalam pertemuan tersebut tidaklah semua memesan kopi, contohnya ada yang memesan susu panas, josua, atau yang lainnya.

Melihat makna di atas, Aktivistas ngopi bagi mahasiswa bukanlah sekedar nongkrong dan meminum kopi, akan tetapi ngopi telah menjadi budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, yaitu budaya yang di dalamnya terisi hal-hal yang luar biasa.


Dimana esensi ngopi  bagi aktivis adalah sarana bertukar pemikiran, sarana membangun wawasan, sarana membangun pengetahuan, dan sarana membangun komunikasi.

Dengan demikian ngopi adalah budaya yang harus selalu dilestarikan oleh para aktivis agar penggung-panggung perjuangan tidak lumpuh oleh pengaruh mellenialis yang seperti memberi mahasiswa sebuah identitas baru.

Betapun mulianya gambaran tentang ngopi, tampak saat ini telah mulai terancam dan terkikis oleh sebuah identitas baru, para mahasiswa yang cenderung mengalih fungsikan budaya yang ada dalam budaya ngopi  sebagaimana diurai di atas dengan kebiasaan baru, seperti ajang pamer histori sosmed, bermain game, dll.


Ketika melihat realitas tentang ancaman memudarnya budaya ngopi yang seakan-akan hanyut terkikis oleh ombak jajahan media sosial yang telah membuat mahasiswa lupa dengan identitas yang sebenarnya, yaitu budaya dealektika intlektual yang di kenal dengan istilah ngopi.

Demikian hendaknya mahasiswa mengembalikan ruh budaya ngopi pada esensinya yang memungkinkan untuk kembali merajut subtansi mahasiswa yang telah menorehkan sejarah terhormat pada masanya.

Mari bersama selamatkan budaya ngopi , dan lawan budaya alay Yang telah memperkosa eksistensi mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat.