MERAJUT KEMBALI OPTIMESME WIRAUSAHA DIMASA PANDEMI COVID 19

MERAJUT KEMBALI OPTIMESME WIRAUSAHA DIMASA PANDEMI COVID 19
Suasana kopi si Embah selama masa PPKM darurat yang terlihat lesu dan tak ramai sebagaimana pada umumnya, disamping itu cafe yang biasanya sampai tengah malam terpaksa tutup sebelum jam 08. 
Oleh : Nur Yakin

Mengenai wirausaha di Indonesia, UMKM keberadaannya sangat masif diseluruh penjuru negeri, baik di sekitar tempat keramaian, di sekitar instansi pemerintahan dan di lembaga pendidikan.

UMKM sebagaimana diketahui secara umum merupakan bentuk usaha kelas menengah kebawah sebagai ikhtiar untuk mencapai kemandirian dalam sektor ekonomi rakyat kecil di tengah sulitnya lowongan pekerjaan.

Kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan tidak lepas dari beberapa faktor tertentu, yaitu karena minim lowongan pekerjaan dan juga dikarenakan tuntutan perusahaan kepada lulusan pendidikan tinggi, semisal minimum lulusan S1 dan atau sederajatnya.

Maka diperlukan kemandirian ekonomi ditengah-tengah masyarakat yang dalam kontek pendidikan tidak memenui prasyarat sebagaimana disinggung di atas.

Maka menciptakan usaha secara mandiri tentu menjadi alternatif yang sangat memungkinkan untuk membangun ekonomi masyarakat yang mandiri atau dengan kata lain tidak hanya ketergantungan kepada pemodal besar.

Dalam hal ini tentu UMKM sebagai alternatif ekonomi mandiri terbaik untuk masyarakat kelas menengah kebawah, dipandang dari beberapa aspek, baik itu aspek modal materi ataupun dari aspek SDM masyarakat kecil.

Namun pertanyaan yang paling mendasar bagaimama nasib UMKM ditengah pandemi covid-19? Yang mana diketahui bersama bahwa salah satu upaya penjegahan penyebaran covid-19 pemerintah telah mengambil kebijakan dengan pelarangan kerumuman dan pembatasan kegiatan masyarakat.


Khususnya sejak juli sampai saat ini agustus, dimana pemerintah memberlakukan PPKM. Hal ini tentu menjadi kegelisahan tersendiri bagi para pegiat UMKM yang bergantung pada keramaian dalam menjalankan usahanya.

Dari berbagai ujian di masa pandemi ini, menyerah dan pasrah kepada keadaan tentu bukanlah sebuah pilihan atau sikap seorang wirausahawan yang baik, pahit dan beratnya tantangan pandemi tentu harus memeras pemikirin untuk bagaimana kemudian mampu bangkit kembali.


Merajut kembali semangat membangun bisnis tentu harus disertai dengan semangat kuat dan motivasi tinggi agar bisa bangkit dari ujian yang telah berjalan sedemikian lamanya.

Tentu hal ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk kembali mengembangkan usaha sebagaimana suasana sebelum pandemi melanda kehidupan masyarakat di Indonesia.

Namun dengan pemikiran yang positif, maka sangat mungkin untuk kemudian menemukan formulasi baru dalam mengembangkan usaha menengah kebawah yang sedang mengalami pemunduran pendapatan akibat pandemi covid-19.

Dimana diketahui bersama bahawa UMKM selama ini telah menjadi lumbung pendapatan masyarakat kecil pada umumnya atas keterbatasannya dalam mendapatkan peluang bisnis yang bersifat makro, dikarenakan ekonomi yang tidak mendukung.

Formulasi baru sebagiamana disinggung diatas ialah dengan memerhatikan trend kehidupan selama masa pandemi yang banyak bergantung kepada bentuk atau model usaha yang serba canggih dan tanpa harus berkrumun.

Semisal dengan lebih memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, yaitu dengan menyediakan pemesanan yang bersifat online dengan metode antar jemput ataupun metode-metode yang kekinian lainnya yang lambat laun mampu untuk mendongkrak kembali market usaha yang dijalaninya.

Untuk itu memang perlu kesadaran dan motivasi atas ujian bersama para pegiat UMKM yang hampir lumpur akibat dari pandemi covid-19 yang tak urung jua menuai titik temu, sementara kebijakan pemerintah juga seringkali tidak bersahabat dengan kondisi para pegiat UMKM di Indonesia.