TALIBAN, Nafsu Kekuasaan yang Mengatasnamakan Agama

TALIBAN, Nafsu Kekuasaan yang Mengatasnamakan Agama
Oleh : Nur Yakin

Beberapa hari dalam minggu-minggu ini rasanya media telah begitu sesaknya dengan pemberitaan tentang keberhasilan TALIBAN menaklukkan pemerintahan Afganistan yang memang sudah menjadi konflik panjang dalam kurun waktu puluhan tahun silam.

Gerakan-gerakan Taliban yang berbau agama dan bahkan ada sebagian yang menyatakan sebagai upaya membela agama, sejatinya hanyalah sebuah omong kosong belaka.

Kenapa demikian? Karena jika ditelaah lebih mendalam, tindakan taliban sama sekali tidak mencerminkan tentang ajaran agama, khususnya agama islam.

Sejenak kembali pada sejarah islam, dimana ketika Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu dari Tuhan yang maha segalanya, disitu lahirlah sebuah revolusi sosial, dimana pada saat itu tatanan sosial sungguh mencapai puncak immoralitas kehidupan.

Misalnya tentang penuhanan terhadap batu-batu ataupun bentuk alam yang diproduksi oleh manusia yang kemudian dijadikan simbol untuk dituhankan.

Tidak hanya itu, namun perbudakan dan penghinaan kepada kaum hawa yang dianggap sebagai aib dalam kehidupan sangat merajalela dan sama sekali tidak berperikamusiaan, sehingga ketika memiliki anak perempuan maka akan dikubur hidup-hidup.

Islam sebagai agama yang dibawa Nabi lahir dengan membawa pencerahan atas buramnya tatanan kehidupan sosial yang kemudian membawa kemajuan dan perdamaian dalam kehidupan manusia.

Jika sejarah lahirnya agama Islam sedemikan luar biasanya sebagai revolusi sosial yang ramhatan lil'alamin, bagaimana dengan tindakan taliban? Apakah pembunuhan-pembunuhan adalah cerminan agama yang diwariskan oleh Nabi?

Terlalu jauh logika sederhana umat manusia untuk menerima perilaku Taliban dalam kontek mencapai nafsu kekuasan di Afganistan untuk kemudian disebut sebagai pembela agama.


Yang tampak nyata adalah pemanfaatan agama untuk melegitimasi gerakan politik kelompoknya agar mendapatkan simpatik dalam mencapai ambisi politik kekuasaannya.

Alih-alih membela agama, taliban malah menciptakan permusuhan dan kerenggangan antar umat beragama dan memberi kesan buruk bagi agama Islam yang sejatinya selalu mengedepankan perdamaian dan kemasyalahatan dalam kehidupan.

Tindakan-tindakan Taliban yang mengatas namakan agama tidak lebih hanya bentuk pembodohan kepada manusia yang tidak terlalu memahami substansi agama bagi kehidupan manusia.

Salah satu bukti pembodohan sebagaimana diatas atas adalah kecendrungan Taliban untuk melakukan aksi pembunuhan, dimana dalam agama yang manapun khususnya islam, pembunuhan merupakan sesuatu yang dilarang.

Jika kemudian tindakan-tindakan Taliban bertentangan dengan ajaran agama, maka itu sudah cukup menjelaskan tentang inti oreintasi Taliban di Afganistan.

Dalam hal ini, tentu segenap umat islam Indonesia harus lebih cermat dan memahami motif Taliban yang mengatasnamakan agama dalam uapaya mencapai kepentingan kelompoknya.

Untuk itu bagi segenap umat beragama di Indonesia, khususnya agama islam jangan sampai terprovokasi dan termakan oleh hasutan taliban yang melakukan pembantaian dalam upaya mencapai nafsu kekuasaan dengan balutan agama.

Islam Indonesia harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama yang rohmatan lil'alamin dan saling menghargai antar umat beragama serta saling mencinta antar umat seagama.