TERJAJAH DI HARI KEMERDEKAAN

Terjajah Di Hari Kemerdekaan
Oleh : Khotib
Aktivis Pergerakan

Kita tidak pernah lupa akan sejarah masalalu, dimana pada masa tersebut merupakan masa yang serba sulit untuk dihadapi oleh rakyat nusantara yang kemudian dikenal dengan nama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Sebelum rakyat Indonesia menikmati kemerdekaan dan kebebasan dalam berbangsa dan bernegera,  banyak kisah yang terukir dalam perjalanan menuju bangsa yang merdeka, yaitu tentang penjajahan bangsa asing yang begitu merajalela dan menindas kehidupan rakyat indonesia.

Era Kolonialisme di Indonesia

Penjajah pertama yang datang ke-Indonesia, yaitu bangsa Portugis melalui jalur laut, dimana bangsa portugis mengarungi lautan diperkirakan selama 3-2 bulan untuk sampai ke indonesia tepatnya kepuluan malaka yang menajadi persinggahan pertamanya.

Yang kemudian bangsa portugis menjelajah sampai kepulawan Maluku dengan maksud tertentu, yaitu mencari rempah-rempah dan komodita yang pada masanya merupakan barang yang banyak digemari.

Atas dasar itu Portugis kemudian terus memperbesar dan memperluas daerah kekuasaan di Nusantra sampai dengan penaklukan kerajaan malaka.

Tekanan bangsa portugis itu kemudian mendapat perlawanan dari rakyat nusantara, tepatnya rakyat maluku pada tahun 1605, namun hal tersebut malah dijadikan alat oleh belanda untuk mengusir portugis dan menjadi pemegang kekuasaan di kemudian.

Setelah belanda mengambil kekuasaan dari tangan portugis, kemudian belanda berbenah untuk melanggengkan kekuasaannya dengan membentuk VOC di maluku pada Tahun 1602 dibawah kepemimpinan Pieterszoon Coen, Sehingga perdagangan sepenuhnya di kendalikan belanda di Malaka.   

Seiring waktu kekuasaan Belanda semakin lama semakin besar dan mampu memperluas ke-adaerah dan pulau-pulau diseluruh Nusantara, akibatnya masyarakat peribumi semakin merasakan penderitaan atas kekejaman pemerintah kolonial belanda.

Penderitaan rakyat tidak lepas dikarenakan paksaan dari kolonialis belanda untuk bekerja di tanah mereka sendiri dengan tanpa bayaran, sedangkan hasil bertani secara keseluruhan dirampas oleh belanda.

Hal itulah yang kemudian menyebabkan rakyat menderita dengan kurun waktu yang sangat lama, yaitu hampir selema 350 Tahun (antara 1602 dan 1945), selama masa itulah rakyat nusantara merasakan kejamnya penindasan yang sangat tidak manusiawi.

Seiring dengan terjadinya perang dunia ke 2 dimana belanda diserang oleh jerman melalui nazi yang kemudian belanda mengalami kekalahan, sejak saat itu datanglah jepang yang beralih menguasai Indonedia.

Banyak aggapan bahwa Jepang sebagai sodara tua Asia, dimana rakyat Nusantara berharap banyak pada Jepang untuk bisa menjadi penyelamat rakyat Nusantara pada Juni 1941, misalnya Faksi Sumatra menerima bantuan dari kakak tertua Jepang untuk Revolusi dari pemerintahan Belanda sehingga pada Maret 1942 Pasukan Jepang berhasil mengalahkan Belanda dan memaksanya untuk meninggalkan kan Nusantara.

Namun, harapan rakyat Nusantara bertimbang kebalik dengan kenyataannya, dimana jepang tampil lebih agresif dalam melakukan tekanan dan siksaan kepada rakyat Nusantara pada waktu itu.

Sampai pada ahirnya Indonesia benar-benar mampu memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945 setelah melalui berbagai siksaan dan penindasan dari bangsa asing yang menjajah indonesia.


Selama Masa Kemerdekaan

Penderitaan rakyak Indonesia semasa penjajahan sebagaimana diurai diatas telah memberikan harapan akan kebebasan dan kehidupan yang baik bagi seluruh rakyat pasca indonesia memperoleh kemerdekaan dari tangan penjajah asing.

Namun dalam perjalanannya menuju kehidupan ideal masih mengalami jalan terjal, dimana konflik internal masih seringkali memicu kekisruhan yang lagi dan lagi rakyat sebagai korban dari imbas pertikaian tersebut.

Sebut saja misalnya tragedi politik yang sangat memilukan, yaitu tragedi G30SPKI, dimana pada tragedi tersebut terhadi pembantaian terhadap para kyai dan enam jendral oleh PKI.

Seiring dengan perjalanan kemerdekaan bangsa dari zaman ke zaman tentu dinimika kehidupan selalu mengalami perkembangan dan perubahan, baik itu cacatan manis ataupun pahit.

Sampai dengan saat ini 2021 dimana tidak lama lagi seluruh lapisan rakyat akan bersuka cita, merayakan dan mengenang proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 17 agustus 2021 pada hari selasa pekan depan.

Namun peringatan akan hari proklamasi kemeredekaan indonesia akan terasa sumbang akibat pandemi covid-19 yang telah mengakibatkan penderitaan yang cukup mendalam bagi kehidupan rakyat indonesia.

Selain karena keberadaan covid-19 yang mengancam kehidupan rakyat, banyak sekali kebijakan pemerintah yang bersifat menekan dan bahkan mengabaikan kepentingan rakyat untuk bertahan hidup dimasa pandemi covid-19.

Sebut saja misalnya refrisifitas satgas covid-19 dalam penertipan para PKL atau UMKM yang terkesan kebablasan dari INMINDAGRI yang menjadi dasar hukum penegakannya.

Jika dipandang dari berbagai kasus yang viral di media sosial tentang perampasan alat produksi dan pemaksaan untuk menutup masyarakat yang sedang berjualan, seakan kebijakan pemerintah terlihat penuh dengan ego dan sewenang-wenang dalam upaya memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Berbagai kebijakan yang dianggap tidak secara mendalam memahami kehidupan rakyat yang sedang terpuruk akibat dampak covid-19, dipandang sebagai tekanan bagi kehidupan rakyat yang sebenarnya membutuhkan dukungan moral untuk kembali menatap kehidupan lebih baik.

Hal diatas yang kemudian membuat kibaran sang merah putih dan nyanyian kemerdekaan serasa sayup dan lesu, dimana rakyat serasa sedang terjajah oleh tekanan-tekanan yang tidak lain merupakan buah dari kebijakan pemerintah terkait covid-19.

Untuk itu, pemerintah perlu untuk tampil lebih cermat dan merakyat dalam menentukan suatu kebijakan, agar tidak dirasa sebagai bentuk tekanan kepada rakyat kecil yang kemudian memicu konflik sosial kehidupan masyarakat di tengah-tengah kehidupan rakyat indonesia yang sedang terancam akan covid-19.