GLOBALISASI DAN ANCAMAN KRISIS NILAI KEBANGSAAN BAGI PEMUDA

GLOBALISASI, ANCAMAN KRISIS NILAI KEBANGSAAN PARA PEMUDA
Oleh : Nur Yakin

Perkembangan globalisasi sejatinya telah membawa kepada berbagai kemajuan dalam kehidupan bangsa-bangsa, tidak terkecuali bangsa indonesia.

Sebagai contoh dasar, misalnya tentang kemudahan berbagi informasi, penyebar luasan pengetahuan, mempublikasikan setiap gagasan kebangsaan, gasasan demokratisasi dll.

Namun, dalam situasi yang sama globalisasi juga disertai dengan berbagai tantangan-tantangan bagi segenap bangsa-bangsa untuk kemudian menjadi warga dunia, dalam hal ini catatan terpenting adalah bagaimana kemudian tetap mempertahankan identitas dan nilai kebangsaan indonesia.

Berbicara tentang mempertahankan identitas dan nilai kebangsaan Indonesia dengan kearifan lokal budaya dan berbagai aspek penting lainnya, tentu peran ini sangat tepat jika kemudian diemban oleh para kaum muda.

Kenapa para pemuda? Karena pemuda adalah generasi penerus yang saat ini sebagai penikmat globalisasi dan akan menjadi pemimpin atau para tokoh dikemudian.

Maka dari itu, tantangan-tantangan globalisasi sebagaimana di singgung diatas harus mampu dihadapi oleh para pemuda untuk tidak meninggalkan nilai-nilai budaya dan kerakter bangsa Indonesia.

Melihat realitasnya saat ini, tantangan tersebut terlihat sangat berat di pundak para pemuda, karena Indonesia masih berada dalam kategori negara periferi, karena keberadaannya masih sering dipersulit dengan sikap inferior.

Dalam artian bahwa sebagian besar para pemuda Indonesia beranggapan tentang budaya-budaya negara maju adalah budaya yang selalu lebih baik dan terus dianggap sebagai model yang akan diikuti.

Sehingga efek yang paling dirasakan dalam kehidupan para pemuda Indonesia adalah ketidak seimbangan dalam menghadapi tantangan globalisasi yang banyak mengancam kearifan lokal, baik dalam segi budaya dan berbagai karakter kebangsaan yang lain.

Baca juga : wisuda tanpa karya

Beberapa dampak buruk dari ketidak seimbangan tersebut ialah tentang kecendurangan para pemuda terhadap konsumerisme, hedonisme, dan apatisme terhadap berbagai persolaan kebangsaan dan kemasyrakatan serta terkikisnya jiwa patriotismenya.

Kecendrungan akan budaya globalisasi tampak nyata dengan absennya sebagian besar para kaum muda dari kancah organesasi kepemudaan yang pada masalalu banyak memberikan sumbangsih ide atapun gagasan terkait arah tujuan negara.

Tidak hanya dalam kontek sikap patriotisme dan nasionalisme yang mulai terkikis oleh dampak globalisasi, namun dalam aspek budaya banyak pemuda yang terjajah dan terpengeruh oleh budaya luar.

Misalnya terkait kecenderungan pergaulan bebas, narkoba, dan trend fashion ala barat banyak dijumpai dikalangan muda, dimana perilaku dan trend baru tersebut sama sekali tidak mencerminkan adat dan budaya bangsa Indonesia.

Hal ini tentu menjadi kehawatiran tersendiri bagi segenap bangsa Indonesia, karena dampak globalisasi menjadi ancaman akan identitas bangsa yang mengedepankan etika ketimuran.

Dalam kontek ini, tentu perlu pemkiran bersama antar tokoh masyarakat, tokoh adat, organesasi kepemudaan untuk menekankan kearifan lokal dan memahamkan tentang kebudayaan dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Selain peran para tokoh tersebut, hal ini tentu menjadi cacatan penting bagi pemerintah untuk senantiasa membangun aspek nilai kebangsaan dalam perogram kepemudaan, baik lewat KEMENPORA dan hirakisnya kebawah ataupun melalui instansi yang lain.


Dimana selama program kepemudaan lebih banyak hanya pada program pengembangan saja, namun seiring dengan perkembangan globalisasi dan ancamannya terhadap nilai kebangsaan, perlu kemudian untuk mempreoritas penanaman jiwa nasionalis, patriotis dan menjunjung tinggi  kearifan lokal dengan tetap mampu bersaing dengan bangsa-bangsa dunia.

Untuk itu, secara umum perlunya segenap anak bangsa atau para pemuda untuk kemudian memahami karakteristik bangsa Indonesia agar tidak dengan mudah terpengeruh oleh dampak hidup bebas budaya luar.

Denngan kata lain mampu untuk memfilter setiap perkembangan globalisasi yang serba canggih, karena bagaimanapun pemuda saat ini adalah pemimpin dan penentu bagaimana nasib bangsa kedepan.

Sebagai generasi tentu harus mampu memahami dan memegang teguh nilai-nilai kebangsaan agar tidak terjajah oleh budaya asing.