REFLEKSI HARI SANTRI " SANTRI SEBAGAI SIMBOL ISLAM INDONESIA"

REFLEKSI HARI SANTRI " SANTRI SEBAGAI SIMBOL ISLAM INDONESIA"
Oleh : Nur Yakin

Dalam rangka mencerdeskan kehidupan anak bangsa sebagaimana yang termaktub dalam UUD 45, maka keberadaan pesantren di Indonesia merupakan ekspresi keagamaan yang fundamintal, dimana kultur pesantren yang senantiasa menanamkan kualitas sepiritual dan kebaikan sosial sebagai wujud rasa kebangsaan dan nasionalisme.

Pesantren dengan interaksi sosial yang sangat tinggi, kemudian mampu untuk menciptakan ruang komunal sebagai wujud nilai-nilai Islam yang netral atau moderat, yaitu dengan pelajaran kehidupan sosial keagamaan yang tertanam dalam benak Santri.

Jika menelaah kondisi sosial paca reformasi, yaitu tentang maraknya fenomena publikasi berbagai diskursus dalam kontek religiositas Islam Indonesia, dimana keterbukaan diskursus pada ruang publik telah banyak memberikan sumbangsih perkembangan sosial keagamaan pada muslim Indonesia, tak terlepas pula pada dunia pesantren.

Hal itulah kemudian yang membuat wacana identitas Islam Indonesia menjadi cukup menarik untuk didiskusikan bagi para kaum pelajar baik yang tergabung dalam wadah organesasi ataupun oleh para sarjana dan akademisi.

Sudah diketahui bersama bahwa kehadiran reformasi telah menciptakan suatu kebebasan dalam berekpresi dan berserikat, hal ini menjadi modal lebih bagi kehidupan masyarakat, sehingga menjadi sangat mungkin jika kemudian muncul kelompok-kelompok untuk mengekspresikan keagmaannya secara terbuka di ruang publik.

Terbukanya kebebasan untuk mengekpresikan keagamaan tersebut yang kemudian mengundang para pemikir Islam untuk menciptakan keseimbangan dalam kontek menjaga stabilitas keagmaan, dimana saat ini banyak diadakannya forum dakwah berupa pengajian ataupun majlis sholawat wa taklim.

Kebebasan berekspresi sebagaimana diatas sejalan dengan perkembangan leterasi digital yang kemudian memberikan pengaruh pula pada eksistensi Santri di ruang publik, hal ini yang kemudian penting untuk menjadi diakursus akademik.

Sebagai sebuah diskursus akademik, kultur pesantren dan perkembangan literasi digital ini merupakan sebuah gagasan yang penting untuk kemudian dikaji lebih dalam.

Kenapa penting untuk dikaji lebih mendalam? Karena lahirnya berbagai macam ekspresi religiositas sebagaimana disebut diatas merupakan bentuk rekonstruksi agama atau gerakan keagamaan.

Menurut John A. Titaley: Indonesia merupakan realitas dengan dua identitas penting, kedua identitas tersebut adalah realitas primordial dan realitas Nasional.

Religiositas sebagai identitas primordial selalu terupaya untuk  kemudian selaras dengan identitas Nasional yang diharapkan menjadi payung bersama, dimana faktanya seringkali identitas keagamaan terlihat bersitegang dengan identitas Nasional.

Untuk itu, perlu sebuah formulasi yang baik untuk menjadikan dua identitas Muslim Indonesia, yaitu identitas religiositas dan identitas nasional untuk saling berpunggungan satu sama lain.

Mengingat keberagaman isu keagamaan di masyarakat melalui pesan digital begitu beragam, maka hal ini kemidian menarik penulis untuk mencoba merumuskan kontribusi Santri dalam rangka membangun peradaban di era kemajuan literasi digital.

Kembali pada maraknya pesan yang disampaikan melalui leterasi digital telah menjadi konsumsi oleh banyak kalangan muda, tak terkuali para Santri, maka Santri harus mampu memanfaatkan perkembangan kecanggihan teknologi sebagai alternatif pengetahuan sekunder.

Kecanggihan teknologi harus dijadikan kesempatan untuk membumikan kultur Santri yang sangat representatif sebagai identitas Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan berkeadilan dalam pandangan kehidupan yang penuh dengan keberagaman di Negeri ini.

Budaya Pesantren yang telah dijiawai oleh para Santri harus mampu dikibarkan dalam kontek mengimbangi isu-isu keagamaan yang berkembang pesat ahir-ahir ini, apalagi sejak terlegitimasinya salah satu hari besar Nasional, yaitu Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2021 mendatang, merupakan salah satu ikhtiar Ulama untuk mengenang jasa Santri sebagai pejuang masa lampau.

Kenangan sejarah heroik masalalu itu, tidak kemudian semata-mata hanya untuk dibanggakan, melainkan untuk menjadi pelecut semangat bagi para Santri saat ini untuk mengabdikan dirinya pada Agama dan Negara.

Hari Santri Nasional merupakan pengakuan atas kiprah kaum Santri di Indonesia, dimana hal ini di gagas dan sekaligus sebagai inisiator adalah KH. Toriq Bin Ziyad Darwis.

Untuk itu, dalam rangka refleksi Hari Santri Nasional, penulis merasa perlu untuk mengajak segenap Santri untuk terjun menjadi jawaban atas berbagai persoalan keagamaan yang selama ini mengancam kesatuan dan persatuan antar umat beragama di tanah pratiwi tercinta ini.

Momentum ini, harus mampu menjadi pembangkit jiwa juang para kaum Santri untuk kemudian meneguhkan bahwa Santri merupakan identitas Islam Indonesia, karena hal ini memang sejalan dengan catatan sejarah tentang pemikiran dan perjuangan para kaum Santri yang dulu dikenal dengan seruan Resolusi Jihad yang diprakarsai oleh Syeh Hasyim Asyari.

Sebagai generasi, Santri harus mampu meneruskan perjuangan para Ulama yang telah disebut dari zaman ke zaman, sehingga keberagamaan hidup di Indonesia akan terlindungi oleh kekuatan Santri lewat ilmu dan kekuatan kulturalnya.

Sebagai penutup, dengan penuh rasa bangga sebagai Santri, penulis dengan lantang mengucapkan "SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL"..!!