TENTANG SILA PERTAMA

TENTANG SILA PERTAMA
Oleh : Nur Yakin

Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan Sila pertama di dalam falsafah bangsa Indonesia, hal ini kemudian menandakan tentang keperdulian dan perhatian rakyat Indonesia terhadap prinsip keagamaan yang sangat mendasar.

Dalam arti lain bahwa agama merupakan satu pokok yang tidak pernah terlepas pada berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi dan bahkan politik dalam kehidupan Rakyat Nusantara, bahkan lebih dari itu agama sering menjadi faktor penentu terhadap faktor yang lain sebagaimana disebut.

Jika berbicara agama, maka jelas bahwa Indonesia memiliki ragam agama yang dianut, bahkan agama di Indonesia memilik kurun waktu tertentu dari zaman ke zaman terkait kedatangannya ke tanah Nusantara, namun jika melihat pada posisi Sila pertama, jelas bahwa para peletak dasar negara Indonesia sadar akan pentingnya posisi agama dalam kehidupan bangsa Indonesia yang beragam.

Keragaman Agama bangsa Indonesia, sejatinya memang sudah tercatat dalam sejarah Nusantara, bahkan sejak zaman kerajaan-kerajaan sebelum datangnya kolonialis ke tanah Nusantara, dimana pada masa itu banyak wewenang para raja-raja Nusantara yang melegitimasinya dengan konsep keagamaan.

Misalnya saja dalam peninggalan kerajaan abad ke tujuh sampai dengan abad ke enambelas sebelum Masehi telah menunjukkan tentang relasi kuat antara agama dan kerajaan, mesipun tidak ada yang pasti entah dari mana asal dan datangnya tradisi keagamaan tersebut.

Realitasnya, tradisi keagaman datang pada zaman dan kurun waktu yang berbeda, namun yang terpenting ialah tentang perbedaan yang kemudia menjadi resep ramuan Nusantara, dimana kemudian segalanya menjadi memiliki keterkaitan.

Dalan cacatan sejarah Nusantara, sejatinya negeri banyak menerima unsur-unsur keagaman dari luar, namun yang mencacatan penting adalah tentang kemampuan untuk memodifikasi kedalam iklim tanah Nusantara.

Misalnya saja, beberapa tradisi yang masuk secara langsung ke Nusantara, seperi tradisi India, China, Timur Tengah, dan Eropa dengan membawa keyakian atau unsur keagamaan tersendiri yang kemudian menyatu dan terselaraskan pasca menyatunya dalam kehidupan rakyat Nusantara.

Salah satu bukti konsep modifikasi kuktur luar yang tanah ke tanah pratiwi ini, seperti Hindu dan Buddha di India, dimana ketika berkembang di era kerjaan Majapahit tanpak berbeda dengan yang ada di India, karena Raja Nusantara kemudian mampu menjadi rekonsiliator atas berbagai perbedaan dalam pengamalannya.

Bukti selanjutnya, ialah ketika terjadi persaingan antara Jenggala, Kediri, Daha, Kahuripan dan Singosari abad dua belas, namun aliran agama semacam Sivaisme, Wisnuisme, dan Tantrayana terlihat untuk saling berkompromi satu sama lain.

Dimana hampir semua pemimpin pada saat itu sama-sama berusaha untuk melindungi berbagai aliran yang ada dengan melepaskan ego persaingannya untuk berkuasa, hal ini tercatat dalam manuskrip dan prasasti konu telah menunjukkan klaim bahwa para Raja-Raja murni sebagai pelindung bagi aliran-aliran tersebut.

Sedanngkan dalam Tap MPR, yaitu No. II/MPR/1978 dan no I/MPR/2003. Ketuhanan Yang Maha Esa, menjelaskan tentang kondisi real kehidupan bangsa Indonesja beserta tantangan-tantangan yang perlu untuk disikapi.

Dimana dua versi penjelasan butir-butir Sila pertama dalam Pancasila sama sekali tidak menyinggung doktrinitas, dogmatis, atau bahkan konsep teologi tertentu.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah penjelasan tentang bagaimana seorang warga Negara yang berkeyakin ataupun beragama harus berhadapan dengan aturan atau norma-norma Negara dan dengan mengedapankan sikap toleransi antar umat beragama, dalam artian bahwa sila tersebut lebih menekankan pada aspek norma, etika, dan sopan santun.

Sila pertama dalan Pancasila ini, sejatinya adalah untuk membangun kerukunan diantara keragaman keagamaan yang ada di Negeri ini, yaitu dengan menggambarkan hubungan yang dinamis antara sesama umat yang bertakwa dan selalu berdaulat terhadap Negara.

Dengan arti lain bahwa SILA pertama merupakan suatu jawaban atas berbagai persoalan isu keagamaan, dimana SILA pertama adalah rujukan falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak perlu lagi untuk diingkari dengan wacana model pemerintahan yang lainnya.

Untuk itu, bagi segenap bangsa Indonesia harus mampu menjiwai SILA pertama sebagai pedoman atas keberagamaan keagamaan yang ada di Negeri ini dan tidak lagi dipersoalkan yang mungkin akan berakibat pada disharmonisnya kerukunan antar umat beragama.